Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Menahan Amarah sebagai Cerminan Akhlak Orang Saleh
Penjelasan
Amarah adalah salah satu sifat yang dimiliki setiap manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pasti pernah merasa kecewa, tersinggung, atau marah karena perlakuan orang lain. Namun, Islam mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada kemampuan membalas kemarahan, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri ketika marah.
Orang saleh dikenal sebagai pribadi yang mampu menjaga akhlaknya dalam keadaan apa pun, termasuk saat menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan. Mereka tidak mudah terpancing emosi dan lebih memilih bersikap tenang serta mendoakan kebaikan bagi orang lain.
Dikisahkan bahwa Abdullah bin ‘Aun tidak pernah marah. Jika ada orang yang membuat beliau marah, beliau justru mengatakan:
“Barakallahu fiik”
(Semoga Allah melimpahkan keberkahan-Nya untukmu).
Sikap tersebut menunjukkan betapa indahnya akhlak seorang mukmin yang mampu mengalahkan hawa nafsunya demi mencari ridha Allah SWT.
Kaidah
Beberapa kaidah dalam mengendalikan amarah menurut ajaran Islam antara lain:
- Menahan Emosi saat Marah
Islam mengajarkan agar seseorang tidak terburu-buru bertindak ketika sedang emosi. - Berbicara dengan Baik
Saat marah, seorang muslim dianjurkan tetap menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain. - Mengutamakan Kesabaran
Kesabaran adalah salah satu tanda kekuatan iman seseorang. - Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Memaafkan dapat menenangkan hati dan mempererat hubungan sesama manusia. - Menghindari Balas Dendam
Orang saleh lebih memilih membalas keburukan dengan kebaikan.
Tafsiran
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134:
“Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menjelaskan bahwa menahan amarah merupakan salah satu ciri orang bertakwa. Menahan marah bukan berarti tidak memiliki emosi, tetapi mampu mengendalikan diri agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam tafsir ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang mampu mengendalikan emosinya akan lebih dekat kepada sifat ihsan, yaitu berbuat baik meskipun dalam keadaan sulit. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang mampu memaafkan dan tetap berbuat baik kepada sesama.
Renungan Hidup
Banyak pertengkaran, permusuhan, bahkan perpecahan terjadi karena seseorang tidak mampu mengendalikan amarahnya. Kata-kata yang diucapkan saat marah sering kali melukai hati orang lain dan sulit untuk diperbaiki kembali.
Orang yang mampu menahan amarah sebenarnya sedang menjaga kehormatan dirinya sendiri. Dengan bersikap tenang, seseorang akan lebih mudah berpikir jernih dan mengambil keputusan yang baik. Menahan amarah juga membuat hati menjadi lebih damai dan hubungan dengan orang lain tetap terjaga.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam akhlak. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sabar dan penuh kasih sayang, bahkan kepada orang yang menyakitinya. Oleh karena itu, marilah kita belajar mengendalikan amarah dan membalas keburukan dengan doa serta kebaikan.
Referensi
- Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran Ayat 134
- Imam An-Nawawi. Riyadhus Shalihin
- Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir
- Siyar A’lamin Nubala 6/365
- Yusuf Qardhawi. Akhlak dalam Islam
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh