Dunia Tidak Akan Pernah Ada Habisnya

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Dunia Tidak Akan Pernah Ada Habisnya

Penjelasan

Kehidupan dunia sering membuat manusia terlena dengan berbagai keinginan dan ambisi. Ketika satu keinginan tercapai, muncul keinginan lainnya. Saat seseorang telah memiliki harta, ia ingin lebih banyak lagi. Ketika mendapatkan kedudukan, ia ingin yang lebih tinggi. Begitulah sifat dunia yang tidak pernah memberikan rasa puas kepada manusia apabila hati tidak dikendalikan dengan iman dan rasa syukur.

Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat sementara untuk beribadah dan mempersiapkan bekal menuju akhirat. Dunia bukan tujuan akhir kehidupan. Karena itu, seorang muslim tidak boleh terlalu tenggelam dalam mengejar kenikmatan dunia hingga melupakan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas lagi.”
(HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1034)

Hadis ini menggambarkan bahwa hawa nafsu manusia terhadap dunia tidak akan pernah ada habisnya kecuali jika hatinya dipenuhi rasa qana’ah dan syukur kepada Allah SWT.

Kaidah

Beberapa kaidah penting dalam menyikapi kehidupan dunia menurut Islam antara lain:

  1. Dunia Hanya Sementara
    Kehidupan dunia bukan tempat tinggal abadi.
  2. Qana’ah Membawa Ketenangan
    Merasa cukup atas nikmat Allah SWT membuat hati lebih damai.
  3. Harta Bukan Ukuran Kebahagiaan
    Banyaknya harta tidak menjamin ketenangan hidup.
  4. Mengutamakan Akhirat
    Seorang muslim hendaknya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
  5. Bersyukur atas Nikmat Allah SWT
    Syukur menjauhkan hati dari sifat tamak dan rakus.

Tafsiran

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan serta anak keturunan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sering membuat manusia sibuk berlomba dalam urusan materi dan kebanggaan semata. Namun semua itu hanyalah sementara dan akan berakhir.

Dalam tafsir ayat tersebut dijelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya memanfaatkan dunia sebagai sarana beramal saleh, bukan menjadikannya tujuan utama kehidupan.

Renungan Hidup

Banyak manusia terus mengejar dunia tanpa merasa puas. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, hati tetap merasa kurang dan ingin lebih lagi. Jika hati hanya bergantung pada dunia, maka seseorang akan terus merasa lelah dan gelisah.

Padahal, kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada hati yang bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Allah SWT berikan. Orang yang qana’ah akan lebih tenang meskipun hidup sederhana, sedangkan orang yang tamak tidak akan pernah merasa puas walaupun memiliki banyak harta.

Marilah kita menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat, bukan tujuan utama kehidupan. Gunakan nikmat yang Allah SWT berikan untuk berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya, karena pada akhirnya semua yang ada di dunia akan ditinggalkan.

Referensi

  1. Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 20
  2. HR. Bukhari no. 6436
  3. HR. Muslim no. 1034
  4. Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir
  5. Imam An-Nawawi. Riyadhus Shalihin

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

https://masjid-almadinah-atc.com/MohdGhozi