Aku Tak Tahu Manakah Yang Baik Diantara Keadaan Senang dan Susah

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kalimat ini lahir dari kedewasaan batin yang jarang dimiliki manusia. Ia bukan bentuk kepasrahan yang lemah, melainkan kesadaran yang tenang bahwa hidup tidak selalu bisa diukur dari rasa nyaman atau tidak nyaman. Dalam susah dan senang, manusia sering tergesa memberi label, seolah kebahagiaan selalu bermakna kebaikan dan kesulitan selalu bermakna keburukan. Padahal kehidupan menyimpan hikmah yang kerap tersembunyi di balik rasa yang tidak kita sukai, dan menyimpan ujian yang halus di balik nikmat yang kita rayakan.

Secara filosofis, sikap tidak terlalu terikat pada keadaan adalah bentuk kebebasan terdalam. Ketika seseorang berhenti menjadikan perasaan sebagai satu-satunya kompas nilai, ia mulai melihat hidup dengan pandangan yang lebih luas. Kesusahan bisa menjadi pintu pembersihan jiwa, tempat ego dilunakkan dan doa menjadi jujur. Kesenangan bisa menjadi ladang ujian, tempat manusia diuji apakah ia bersyukur atau justru lupa diri. Kita tidak pernah benar-benar tahu mana yang lebih baik, karena pandangan kita selalu terbatas oleh waktu yang sempit dan kepentingan diri.

Dari sisi psikologis, kalimat ini mencerminkan ketenangan yang lahir dari kepercayaan. Orang yang tidak terlalu cemas pada naik turunnya keadaan biasanya memiliki sandaran makna yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia tidak menggantungkan harga diri pada keadaan eksternal. Ia tahu bahwa dirinya tetap bernilai saat jatuh, dan tetap harus waspada saat berhasil. Inilah jiwa yang tidak mudah hancur oleh kegagalan dan tidak mabuk oleh keberhasilan.

Dalam kehidupan sosial, sikap ini melahirkan manusia yang rendah hati dan tidak mudah menghakimi. Ia tidak merasa lebih mulia saat hidupnya lapang, dan tidak merasa hina saat hidupnya sempit. Ia memahami bahwa setiap orang sedang berjalan di jalur ujian yang berbeda. Kesadaran semacam ini membuat seseorang lebih lembut dalam memandang orang lain, lebih sabar dalam menghadapi keadaan, dan lebih jujur dalam berdoa.

Pada akhirnya, ketidakpedulian terhadap susah dan senang bukan berarti tidak merasakan apa-apa, melainkan tidak menjadikan rasa sebagai penentu kebenaran. Ia adalah bentuk kepasrahan yang cerdas, di mana hati tetap bekerja, tetapi tidak menguasai arah. Sebuah sikap batin yang berkata dengan lirih bahwa apa pun yang datang, jika itu terjadi, maka pasti membawa makna yang perlu dipelajari.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

https://MuhammadRizki