Jangan Menganggap Dirimu Besar

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kalimat ini terdengar keras, tetapi justru lahir dari kejujuran paling telanjang tentang hakikat manusia. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan panggung keabadian, melainkan perjalanan singkat yang sering kali membuat manusia lupa diri. Saat kuasa berada di tangan, saat pujian mengalir, saat nama disebut dengan hormat, ada godaan halus untuk merasa besar, merasa lebih tinggi dari yang lain, merasa seolah waktu akan memberi pengecualian khusus kepada diri kita.

Secara reflektif, manusia sering keliru mengukur kebesaran. Kita mengira jabatan, pengaruh, kekayaan, dan sorotan adalah bukti keagungan. Padahal semua itu hanya pinjaman yang dapat ditarik kapan saja. Tanah yang hari ini kita injak dengan penuh kesombongan, besok akan menutup tubuh kita tanpa bertanya siapa kita dulu. Alam tidak pernah terkesan oleh titel, ia hanya mengenal hukum kembali kepada asal.

Dalam kacamata filosofis, rumput adalah simbol kesetaraan paling jujur. Ia tumbuh di mana saja, di bawah langkah kaki yang angkuh maupun di atas pusara orang-orang yang dahulu dielu-elukan. Rumput tidak memilih siapa yang dilayaninya, karena kematian telah meratakan semua perbedaan. Di hadapan waktu dan tanah, manusia yang merasa paling besar pun kembali menjadi kecil, sunyi, dan tak bersuara.

Secara psikologis, kesadaran akan kefanaan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan ketakutan. Orang yang benar-benar mengerti bahwa hidup ini singkat justru akan lebih lembut dalam bersikap, lebih berhati-hati dalam berkata, dan lebih ringan dalam memaafkan. Ia tahu bahwa kesombongan hanya memperberat langkah menuju akhir yang pasti.

Dalam kehidupan sosial, banyak konflik lahir dari rasa merasa paling penting. Merasa paling benar, paling berjasa, paling layak dihormati. Padahal, ketika ajal datang, tidak ada satu pun kehormatan dunia yang ikut turun ke liang lahat. Yang tersisa hanyalah jejak kebaikan, doa orang-orang yang pernah disentuh hatinya, dan amal yang dikerjakan diam-diam tanpa ingin dipuji.

Maka kalimat ini bukan ancaman, melainkan ajakan untuk sadar. Bahwa hidup bukan tentang berdiri lebih tinggi dari orang lain, melainkan tentang bagaimana tetap rendah hati sebelum kita benar-benar direndahkan oleh tanah. Karena pada akhirnya, rumput akan tetap tumbuh, entah kita pernah merasa besar atau memilih untuk merendah sejak awal.

Sekarang tanyakan pada dirimu, jika hari ini adalah kesempatan terakhirmu untuk menjejak bumi, hal apa yang masih membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

https://masjid-almadinah-atc.com/MuhammadRizki