Adanya Penilaian Diri

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ungkapan ini berbicara tentang jejak keberadaan manusia dalam hidup orang lain. Ia mengingatkan bahwa nilai diri tidak diukur dari seberapa sering kita hadir, tetapi dari kualitas dampak yang kita tinggalkan. Setiap pertemuan adalah amanah, dan setiap hubungan menyimpan tanggung jawab moral.

Menyesal karena pernah mengenal seseorang adalah luka yang lahir dari sikap, bukan dari perpisahan. Ia muncul ketika kehadiran kita membawa kekecewaan, pengkhianatan, atau rasa direndahkan. Kalimat ini mengajak kita untuk berhati-hati dalam bersikap, agar kehadiran kita menjadi ruang aman, bukan sumber trauma.

Sebaliknya, membuat seseorang menyesal karena kehilangan kita bukan berarti menumbuhkan ketergantungan, melainkan meninggalkan makna. Itu terjadi ketika kita hadir dengan kejujuran, ketulusan, dan akhlak yang baik, sehingga saat kita pergi, yang tersisa adalah kenangan tentang kebaikan dan rasa hormat.

Secara filosofis, ini adalah ajakan untuk hidup secara bermartabat. Menjadi manusia yang tidak sekadar mengambil peran, tetapi memberi nilai. Bukan sekadar dikenal, tetapi dikenang dengan kebaikan. Dalam pandangan etika Islam, inilah bentuk ihsan dalam relasi sosial, berbuat baik bahkan ketika tidak ada tuntutan untuk melakukannya.

Pada akhirnya, hidup adalah rangkaian perjumpaan dan perpisahan. Kita tidak selalu bisa memilih siapa yang tinggal dan siapa yang pergi. Namun kita selalu bisa memilih bagaimana cara kita hadir. Biarlah kepergian kita tidak meninggalkan penyesalan, melainkan kesadaran bahwa pernah ada seseorang yang membawa kebaikan dalam hidup mereka.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

https://masjid-almadinah-atc.com/MuhammadRizki