Doa Nabi Sulaiman

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Doa Nabi Sulaiman

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ

Rabbi awzi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala salihan tardhahu.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai.”
(QS. An-Naml: 19)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Doa ini adalah ungkapan syukur yang lahir dari hati seorang nabi yang memiliki kekuasaan besar namun tetap menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah. Nabi Sulaiman tidak meminta tambahan kemewahan atau kekuatan, melainkan meminta kemampuan untuk bersyukur dan beramal saleh. Dari sini kita belajar bahwa nikmat terbesar bukan sekadar memiliki banyak hal, tetapi mampu menggunakan semua itu dengan benar di jalan yang diridai Allah.

Secara psikologis, manusia sering lebih fokus mengejar nikmat daripada menjaga kesadaran untuk mensyukurinya. Ketika sesuatu belum dimiliki, manusia berdoa dengan sungguh-sungguh. Namun setelah nikmat datang, hati perlahan terbiasa dan lupa berterima kasih. Doa Nabi Sulaiman mengingatkan bahwa syukur bukan reaksi sesaat, melainkan kemampuan batin yang harus terus dijaga dan dilatih.

Dalam dimensi spiritual, syukur bukan hanya ucapan di lisan, tetapi kesadaran yang tercermin dalam sikap hidup. Bersyukur berarti menyadari bahwa setiap kesehatan, keluarga, ilmu, rezeki, dan kesempatan adalah amanah dari Allah. Orang yang benar-benar bersyukur tidak mudah sombong ketika diberi kelapangan dan tidak mudah putus asa ketika diuji kekurangan, karena ia memahami bahwa semua datang dari Tuhan dengan hikmah-Nya.

Doa ini juga mengandung penghormatan yang dalam kepada orang tua. Nabi Sulaiman tidak hanya mengingat nikmat yang diberikan kepada dirinya, tetapi juga nikmat yang Allah berikan kepada kedua orang tuanya. Ini mengajarkan bahwa manusia tidak tumbuh sendirian. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan orang tua yang menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Mengingat mereka dalam doa adalah bentuk kelembutan hati dan adab yang mulia.

Secara filosofis, doa ini menunjukkan bahwa amal saleh lebih penting daripada sekadar kebanggaan atas nikmat dunia. Banyak orang diberi kecerdasan, kekayaan, dan kedudukan, tetapi tidak semua mampu mengubahnya menjadi amal yang diridai Allah. Karena itu Nabi Sulaiman memohon agar dirinya diberi kemampuan untuk melakukan kebaikan yang benar-benar diterima dan dicintai oleh Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, doa ini mengajarkan keseimbangan antara menikmati nikmat dan menjaga kerendahan hati. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar. Syukur sejati bukan hanya menikmati pemberian Allah, tetapi menjadikan hidup lebih bermanfaat bagi sesama dan lebih dekat kepada-Nya.

Maka ketika hari ini kita masih diberi kesempatan hidup, kesehatan, keluarga, dan berbagai nikmat yang sering terlupakan, jangan hanya meminta tambahan kenikmatan. Mintalah juga hati yang mampu bersyukur dan langkah yang mampu menggunakan nikmat itu untuk kebaikan yang diridai Allah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

https://masjid-almadinah-atc.com/ZeldiFirman