LARANGAN BERSIFAT SOMBONG. QS AL-ISRA:37

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


 Jangan Sombong

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

 

Pengantar Makna

Sombong adalah tabiat yang paling halus namun paling berbahaya. Ia tumbuh dari hati yang lupa diri — lupa bahwa segala yang dimiliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah ﷻ. Dalam pandangan Islam, kesombongan bukan sekadar menegakkan dagu atau berjalan angkuh, melainkan merasa diri lebih baik dari yang lain dan menolak kebenaran yang datang.

Allah ﷻ melalui ayat ini menegur manusia agar tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan. Sebab bumi bukan milik kita, dan langkah kaki kita di atasnya hanyalah perjalanan singkat menuju akhirat.

 

Penjelasan Tafsir dan Hikmah

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini adalah larangan keras agar manusia tidak berlaku sombong, baik dalam ucapan, sikap, maupun cara berjalan. Ibnu Katsir menegaskan bahwa tidak pantas bagi manusia untuk bersikap tinggi hati karena semua kelebihan hanyalah karunia Allah yang bisa diambil kapan saja oleh-Nya.

Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa berjalan di bumi dengan sombong mencakup semua bentuk perilaku yang menunjukkan keangkuhan — baik dalam berpakaian, gaya hidup, ataupun memandang rendah orang lain. Beliau menyebutkan, “Kesombongan itu hakikatnya adalah bentuk kezaliman, karena ia menempatkan diri di atas kedudukan yang tidak layak baginya.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan akar dari kesombongan berasal dari kebodohan terhadap hakikat diri. Ia berkata:

> “Sombong adalah menganggap diri lebih tinggi dari orang lain, padahal setiap kelebihan yang ada pada diri seseorang hanyalah pemberian Allah. Maka barang siapa yang sombong atas dasar nikmat yang bukan dari dirinya, sungguh ia telah bodoh terhadap hakikat nikmat itu.”

Dengan demikian, Allah menutup ayat ini dengan peringatan lembut namun tegas — bahwa manusia tidak akan mampu menembus bumi, apalagi menjulang seperti gunung. Ini simbol bahwa sehebat-hebatnya manusia, tetaplah ia makhluk terbatas. Maka tunduklah kepada Sang Pencipta yang Maha Tinggi, dan jangan tertipu oleh kelebihan yang fana.

Pandangan Ulama Tentang Sifat Sombong

1. Ibnu Taimiyyah berkata: “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Siapa yang menolak kebenaran karena hawa nafsunya, maka ia telah berlaku zalim terhadap dirinya sendiri.”

2. Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim: “Sombong itu tercela karena ia menghalangi seseorang dari menerima nasihat dan kebenaran, serta menjadikan manusia tidak saling menghormati.”

3. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menyebutkan bahwa orang yang sombong akan dijauhkan dari taufik dan hidayah, karena hatinya telah tertutup oleh rasa cukup terhadap dirinya sendiri.

 

Faedah dan Manfaat

1. Menyadarkan manusia bahwa segala kelebihan adalah amanah, bukan kebanggaan.

2. Menumbuhkan sifat tawadhu’ (rendah hati) yang dicintai oleh Allah dan manusia.

3. Menjauhkan diri dari dosa batin yang menghapus pahala amal.

4. Membangun kesadaran spiritual bahwa kebesaran hanya milik Allah ﷻ.

5. Menjadi jalan menuju kemuliaan sejati, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

> “Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

 

Penutup Reflektif

Saudaraku, tidak ada kebanggaan sejati di dunia ini selain menjadi hamba Allah yang rendah hati. Seindah apa pun rupa, sebanyak apa pun harta, atau setinggi apa pun ilmu, semuanya akan sirna. Yang kekal hanyalah hati yang bersih dari kesombongan.

Ingatlah, bumi yang kita pijak adalah tanah yang sama di mana kelak kita akan dikembalikan. Maka, rendahkanlah diri di hadapan Allah, dan perlakukan sesama manusia dengan kasih sayang. Karena sesungguhnya, kemuliaan sejati bukanlah milik mereka yang tinggi kepala, tetapi milik mereka yang rendah hati di jalan Allah.

 

Referensi :

Al-Qur’an Surah Al-Isra’: 37

Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Al-Qurthubi

Tafsir As-Sa’di

Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali

Syarh Shahih Muslim – Imam Nawawi

Majmu’ Fatawa – Ibnu Taimiyyah

 


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

(https://masjid-almadinah-atc.com/afrila-fajar)