Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Menutup Do’a dengan Al-Fatihah, Apakah Ada Tuntunannya dari Nabi?
Kutipan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak mengatakan:
“Membaca Al-Fatihah di akhir do’a termasuk kebid’ahan yang tidak ada dasarnya sama sekali. Tidak ada dari Al-Qur’an, tidak ada dari sunnah, ataupun dari perbuatan sahabat ataupun para tabi’in. Maka tidak boleh mengamalkannya. Karena mengkhususkan suatu dzikir atau bacaan Al-Qur’an di suatu tempat, tidak diperbolehkan kecuali dengan dalil.”
(Sumber: ar.islamway.net/fatwa/8416, muslim.or.id)
Pengantar
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak amalan yang dilakukan secara turun-temurun tanpa benar-benar diketahui dasar dalilnya. Salah satunya adalah kebiasaan menutup do’a dengan membaca Al-Fatihah. Karena sudah menjadi kebiasaan umum, banyak orang menganggapnya sebagai bagian dari ajaran Islam yang pasti benar.
Tafsir/Hikmah
Islam adalah agama yang sempurna, dan setiap ibadah memiliki tuntunan yang jelas. Dalam hal do’a, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan berbagai adab dan lafaz yang dapat diamalkan. Namun, tidak semua yang dianggap baik oleh manusia otomatis menjadi bagian dari ibadah yang dibenarkan.
Penjelasan dari para ulama menunjukkan bahwa mengkhususkan bacaan tertentu di waktu atau tempat tertentu tanpa dalil termasuk dalam perkara yang tidak dianjurkan. Membaca Al-Fatihah sendiri adalah amalan yang sangat mulia, tetapi menjadikannya sebagai penutup do’a secara khusus tanpa landasan syariat menjadi hal yang perlu diluruskan.
Hikmahnya adalah agar umat Islam lebih berhati-hati dalam beribadah, tidak sekadar mengikuti kebiasaan, tetapi memastikan setiap amalan memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah. Karena ibadah yang benar bukan hanya tentang niat baik, tetapi juga harus sesuai dengan tuntunan.
Faedah
- Mengajarkan pentingnya beribadah berdasarkan dalil, bukan sekadar kebiasaan.
- Menunjukkan bahwa tidak semua amalan yang dianggap baik itu benar dalam syariat.
- Melatih sikap hati-hati dalam menambah-nambah bentuk ibadah.
- Mengingatkan bahwa kesempurnaan ibadah terletak pada mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.
- Mendorong umat Islam untuk terus belajar agar tidak terjerumus dalam amalan yang tidak berdasar.
Penutup Reflektif
Kadang manusia merasa tenang karena mengikuti apa yang sudah biasa dilakukan banyak orang. Padahal dalam urusan ibadah, “biasa” tidak selalu berarti benar. Justru di sinilah letak ujian keikhlasan dan kejujuran dalam beragama, apakah kita mau mengikuti kebenaran atau hanya mengikuti kebiasaan.
Referensi
- Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak
- ar.islamway.net
- muslim.or.id
- Kajian tentang bid’ah dalam ibadah
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh