Ruginya Melepas Shaf Depan

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Cahaya Hikmah Harian Masjid Al-Madinah
Ruginya Melepas Shaf Depan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan mengundinya.”
(HR. Muslim)

Pendahuluan

Lucu memang. Untuk urusan dunia, kursi depan diperebutkan. Datang lebih awal, bahkan rela “booking tempat”. Tapi untuk shalat, justru banyak yang santai di belakang. Seolah-olah posisi tidak penting.

Padahal, yang kita hadapi bukan sekadar acara biasa.

Tafsir / Hikmah

Hadits ini bukan sekadar informasi. Ini gambaran betapa besar keutamaan shaf pertama sampai Rasulullah ﷺ menyebutkan kalau manusia benar-benar tahu nilainya, mereka akan berebut sampai harus diundi.

Masalahnya, kita tidak melihatnya dengan mata. Tidak ada “label pahala” yang kelihatan. Akhirnya, kita menilai dengan standar dunia:

  • Dekat pintu biar cepat keluar
  • Di belakang biar lebih santai
  • Menunggu orang lain maju dulu

Padahal, setiap langkah menuju shaf depan itu dicatat. Setiap detik menunggu di sana itu bernilai.

Dan ironisnya, sering kali orang yang datang belakangan justru lebih berani maju, sementara yang datang duluan malah “mempersilakan”… lalu kehilangan kesempatan tanpa merasa rugi.

Faedah

  • Shaf pertama memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam
  • Semangat dalam ibadah seharusnya melebihi semangat urusan dunia
  • Menyegerakan kebaikan adalah tanda kesungguhan iman
  • Rasa “tidak enak” sering jadi alasan untuk kehilangan pahala besar
  • Kesempatan pahala tidak selalu datang dua kali

Penutup Reflektif

Kita sering bilang, “nggak apa-apa di belakang.”
Padahal mungkin itu bukan soal tempat… tapi soal hati yang belum benar-benar menghargai kesempatan.

Kalau benar tahu nilainya, kamu tidak akan santai.
Kalau benar paham keutamaannya, kamu tidak akan menunggu disuruh.

Masalahnya bukan tidak tahu.
Kadang cuma… tidak cukup peduli.

Referensi

  • Shahih Muslim
  • Syarah Shahih Muslim – An-Nawawi
  • Riyadhus Shalihin

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

https://masjid-almadinah-atc.com/AfrilaFajar