Sibuk Seharian, Tapi untuk Apa?

Bagikan via:

Facebook
Twitter
WhatsApp

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Cahaya Hikmah Harian Masjid Al-Madinah
Sibuk Seharian, Tapi untuk Apa?

قال عطاء بن أبي رباح رحمه الله:

“أَمَا تَسْتَحْيُونَ، لَوْ نُشِرَتْ صَحَائِفُ أَعْمَالِكُمْ فِيهَا أَعْمَالُكُمْ كُلُّهَا مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ إِلَى آخِرِهِ، فَلَا يُوجَدُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ أُمُورِ الْآخِرَةِ؟”

“Tidakkah kalian malu, jika dibentangkan lembaran amal kalian yang mencatat semuanya sepanjang hari, ternyata tidak ada sedikit pun di dalamnya tentang urusan akhirat?”

Penjelasan

Hari-hari kita penuh aktivitas. Dari pagi sampai malam terasa sibuk, lelah, dan padat. Namun kesibukan itu belum tentu bernilai jika tidak ada bagian yang mengarah kepada akhirat.

Tafsiran

Perkataan ini mengingatkan bahwa amal manusia akan dicatat secara rinci. Bukan hanya apa yang besar, tapi juga yang kecil. Jika sepanjang hari hanya diisi urusan dunia tanpa ada amal untuk akhirat, maka apa yang sebenarnya sedang kita kejar?

Hikmah

Kesibukan bukan ukuran keberhasilan. Yang menjadi ukuran adalah nilai dari apa yang dikerjakan. Menyisihkan waktu untuk dzikir, membaca Al-Qur’an, shalat dengan khusyuk, atau sekadar niat yang benar dalam aktivitas sehari-hari bisa mengubah rutinitas menjadi ibadah. Dari situlah hari menjadi lebih bermakna.

Referensi

Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim
Al-Qur’an Al-Karim

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

https://masjid-almadinah-atc.com/AfrilaFajar